KEPONESIA
BISNISHEADLINE

Harga Emas Merosot di Tengah Konflik Timur Tengah dan Kenaikan Suku Bunga

emas

Isi Konten

  • Harga Emas Merosot di Tengah Konflik Timur Tengah dan Kenaikan Suku Bunga
  • Konflik Timur Tengah dan Ekspetasi Suku Bunga Global
  • Bank Sentral AS Kemungkinan Menaikan Suku Bunga

 

Harga Emas Merosot di Tengah Konflik Timur Tengah dan Kenaikan Suku Bunga

Harga emas merosot ke level uS$ 4200 untuk pertama kalinya sejak November 2025. Merujuk Refinitiv, harga emas saat ini diperdagangkan di kisaran US$ 4226,57 per troy ons atau ambruk 5,8% pada Senin, 23 Maret 2026 pukul 14.01 WIB.

Harga emas pada hari ini bahkan sempat jatuh 7,3% dan diperdagangkan di US$ 4161,89 per troy ons. Level ini adalah yang terendah sejak November 2025.

Pada pekan lalu, harga emas merosot 10,58%. Penurunan ini adalah yang terbesar sejak pekan yang berakhir di 4 Maret 1983 atau 43 tahun lalu.

Konflik Timur Tengah dan Ekspetasi Suku Bunga Global

Harga emas merosot seiring meningkatnya konflik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong ekspektasi suku bunga global lebih tinggi.

“Dengan konflik Iran yang memasuki minggu keempat dan harga minyak bertahan di sekitar US$100 per barel, ekspektasi pasar telah bergeser dari pemangkasan suku bunga ke potensi kenaikan suku bunga, yang mengurangi daya tarik emas dari sisi imbal hasil,” ujar Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade, dikutip dari Reuters.

Iran pada Minggu menyatakan akan menyerang sistem energi dan air negara-negara Teluk sebagai balasan jika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melanjutkan ancamannya untuk menyerang jaringan listrik Iran dalam 48 jam.

Saham-saham Asia turun, sementara harga minyak tetap berada jauh di atas US$110 per barel.

“Likuiditas emas yang tinggi justru tampaknya merugikan di tengah kondisi risk-off ini. Penurunan pasar saham membuat investor melepas posisi emas untuk menutup margin call pada aset lain,” tambah Waterer.

Penutupan Selat Hormuz membuat harga minyak tetap tinggi, memicu kekhawatiran inflasi akibat kenaikan biaya transportasi dan manufaktur.

Bank Sentral AS Kemungkinan Menaikan Suku Bunga

Meski inflasi biasanya meningkatkan daya tarik emas sebagai lindung nilai, suku bunga tinggi justru menekan permintaan terhadap aset tanpa imbal hasil tersebut.

“Peralihan yang semakin kuat dari alokasi safe haven ke posisi berbasis faktor makro berpotensi mendorong risiko penurunan lebih lanjut, seiring penguatan dolar AS dan menurunnya peluang pelonggaran kebijakan The Fed,” kata BMI, unit dari Fitch Solutions.

Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini melonjak tajam.

Kontrak berjangka suku bunga menunjukkan bank sentral AS kini lebih mungkin menaikkan suku bunga daripada menurunkannya hingga akhir 2026, menurut alat FedWatch milik CME.

Ekspektasi ini membuat indeks dolar melambung ke 99,85. Pembelian emas dikonversi dalam dolar AS sehingga kenaikan dolar akan membatasi permintaan emas. ***]

Berita Terkait

Lupakan Power Bank! Ini 5 HP Baterai 7000 mAH Terbaik 2026, Tahan Dipakai Seharian

Jhon Chan

Galaxy S25 FE Hadirkan Cara Baru Persiapan Interview: Latihan, Riset, dan Analisis Real-Time Berkat Gemini AI

Jhon Chan

Morphosis Jadi Season Baru Pertama Garena Delta Force di 2026

Jhon Chan

Shopee 12.12 Birthday Sale Hadirkan Iklan Terbaru Bersama Fuji

Jhon Chan

Telkomsel Hadirkan Pendampingan Psikososial bagi 2.000 Anak Terdampak Bencana Sumatera

Jhon Chan

Telkomsel & WeTV Gelar Undian “Bagi-Bagi Mobil”

Jhon Chan

Leave a Comment