Motor Bebek Legendaris yang Kini Jadi Buruan Kolektor
Keponesia | Motor bebek lawas Honda Supra kembali mendapat perhatian di tengah tren restorasi sepeda motor klasik yang semakin diminati. Salah satu model yang punya daya tarik tersendiri adalah Honda Supra XX, motor yang kini tidak hanya dipandang sebagai kendaraan harian, tetapi juga menjadi bagian dari nostalgia otomotif era 1990-an hingga awal 2000-an.
Honda Supra sendiri pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada 1997. Generasi awalnya dikenal luas dengan sebutan Astrea Supra dan menggunakan mesin sekitar 97 cc. Setahun kemudian, Honda menghadirkan Supra X dengan sejumlah pembaruan, termasuk rem cakram depan.
Sementara itu, Supra XX hadir sebagai salah satu varian yang cukup unik. Berdasarkan catatan sejarah produk Honda, Supra XX diperkenalkan sekitar 2002 dan menggunakan kopling manual, serta telah dilengkapi rem cakram di roda depan. Varian ini hanya beredar dalam waktu relatif singkat sehingga kini menjadi salah satu model yang menarik perhatian penggemar motor lawas.
Bagi sebagian penghobi, daya tarik Supra XX bukan semata-mata terletak pada nilai ekonominya. Karakter desain yang sederhana, teknologi yang masih mudah dipahami, serta citra sebagai motor bebek tangguh membuatnya tetap memiliki tempat di hati penggemar otomotif.
Motor yang dahulu identik dengan kendaraan keluarga atau sering disebut sebagai “motor bapak-bapak” kini justru mulai diburu untuk direstorasi. Pemilik biasanya berusaha mengembalikan kondisi motor sedekat mungkin dengan tampilan ketika pertama kali keluar dari dealer.
Di tengah tren tersebut, Aji, warga Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat, menjadi salah satu pemilik yang mempertahankan Honda Supra lawas sebagai bagian dari kecintaan terhadap motor klasik.
Bagi pemilik seperti Aji, mempertahankan motor lawas bukan hanya soal kendaraan, tetapi juga menjaga kenangan terhadap sebuah era ketika motor bebek menjadi kendaraan utama masyarakat Indonesia.
“Salah satu alasan motor-motor Honda Supra lawas masih diminati adalah konstruksi mesin yang relatif sederhana. Karakter tersebut membuat perawatan dan perbaikan lebih mudah dilakukan dibandingkan sepeda motor modern dengan sistem elektronik yang jauh lebih kompleks,” kata Aji dalam keteranganya. Kamis (21/08/2026) malam di Langkat.
Dikatakanya. Generasi awal Supra dikenal menggunakan mesin keluarga C-series dengan kapasitas sekitar 97 cc. Kesederhanaan tersebut turut membangun reputasi Supra sebagai motor yang irit dan dapat diandalkan untuk penggunaan sehari-hari.
Namun, kondisi setiap unit bekas tentu berbeda. Motor yang sudah berusia lebih dari dua dekade perlu diperiksa secara menyeluruh, terutama bagian mesin, kelistrikan, rangka, kaki-kaki, serta kelengkapan bodinya.
“Bagi calon pembeli yang ingin mendapatkan Supra XX untuk koleksi maupun kendaraan harian, kondisi dan keaslian unit menjadi faktor penting. Untuk penghobi restorasi, unit dengan komponen orisinal dan dokumen lengkap biasanya lebih menarik karena proses mengembalikannya ke kondisi standar pabrik menjadi lebih mudah,” sebutnya.
Tambahnya, minat terhadap Honda Supra XX menunjukkan bahwa usia bukan satu-satunya ukuran sebuah kendaraan masih memiliki nilai. Di tangan penghobi, motor yang pernah menjadi kendaraan sehari-hari masyarakat justru dapat berubah menjadi benda koleksi yang memiliki nilai nostalgia.
Bagi Aji dan para penggemar motor bebek lawas lainnya, mempertahankan Supra bukan sekadar menjaga sebuah sepeda motor tetap hidup. Ada cerita, kenangan, dan karakter sebuah era otomotif Indonesia yang ikut dipertahankan.
“Ketika motor modern menawarkan teknologi semakin canggih, kesederhanaan Honda Supra XX justru menjadi daya tarik tersendiri. Motor bebek yang dahulu dianggap biasa saja itu perlahan kembali menemukan tempat di tengah generasi baru pecinta otomotif dan komunitas restorasi motor klasik,” tutup Aji. (*)
