Isi Konten
- Awal Mula Tahu Sumedang: Dari Kerinduan Kampung Halaman
- Inovasi Cerdas Ong Bung Keng
- Peran Penting Pangeran Soeriaatmadja
- Tahu Sumedang sebagai Penggerak Ekonomi Lokal
- Dari Dapur Sederhana ke Penetrasi Nasional
Keponesia | Tahu Sumedang merupakan salah satu kuliner khas Jawa Barat (Jabar), yang digemari banyak orang. Camilan sederhana dengan tekstur renyah di luar dan lembut di dalam ini bukan hanya memanjakan lidah, tetapi juga menyimpan kisah menarik yang berawal lebih dari seabad lalu.
Di balik kepopulerannya, terdapat sejarah panjang, inovasi keluarga imigran Tiongkok, serta peran penting tokoh lokal yang menjadikan Tahu Sumedang bertahan sebagai kuliner legendaris hingga kini.
Awal Mula Tahu Sumedang: Dari Kerinduan Kampung Halaman
Perjalanan Tahu Sumedang dimulai pada tahun 1917 ketika seorang imigran Tiongkok bernama Ong Kino menetap di Sumedang. Berbekal pengetahuan sederhana dalam pembuatan tahu, ia mencoba membuat tahu putih untuk mengobati kerinduan sang istri terhadap masakan khas tanah kelahiran mereka.
Namun pada masa itu, masyarakat Sumedang belum familiar dengan olahan tahu, sehingga usaha tersebut tidak langsung mendapatkan sambutan positif. Meski kurang diminati, usaha keluarga ini tidak berhenti. Setelah Ong Kino wafat, anaknya Ong Bung Keng melanjutkan produksi tahu dan melakukan inovasi yang kemudian menjadi titik balik perkembangan kuliner ini.
Inovasi Cerdas Ong Bung Keng
Saat itu, tahu putih tradisional cenderung lembek dan cepat basi. Ong Bung Keng kemudian mencoba menggoreng tahu putih rebus hingga membentuk kulit luar yang kering dan renyah, sementara bagian dalam tetap lembut dan gurih. Teknik sederhana inilah yang akhirnya membuat produk tersebut berbeda dari tahu pada umumnya. Tahu goreng racikan Ong Bung Keng kemudian dikenal masyarakat sebagai Tahu Bungkeng, yang kelak menjadi cikal-bakal nama besar Tahu Sumedang.
Peran Penting Pangeran Soeriaatmadja
Popularitas Tahu Bungkeng semakin berkembang setelah mendapat apresiasi dari Pangeran Soeriaatmadja, Bupati Sumedang yang memimpin pada 1882–1919. Pada masa kepemimpinannya, Sumedang mengalami pertumbuhan ekonomi signifikan sehingga berbagai usaha rakyat mulai berkembang pesat.
Dalam salah satu kisah yang banyak diceritakan masyarakat, sang Bupati pernah melintasi kedai tahu Ong Bung Keng dan mencicipi produknya. Merasakan keunikan dan kelezatan tahu tersebut, beliau berkomentar, “Enak benar tahu ini, cocok dengan namanya, Tahu Bungkeng.” Sejak saat itu, nama Tahu Bungkeng semakin populer, hingga akhirnya dikenal luas sebagai Tahu Sumedang.
Tahu Sumedang sebagai Penggerak Ekonomi Lokal
Kini, Tahu Sumedang tidak hanya menjadi jajanan populer, tetapi juga berperan besar dalam menggerakkan perekonomian masyarakat. Ratusan pengrajin tahu, pedagang gorengan, pemilik toko oleh-oleh, hingga pelaku UMKM sangat bergantung pada industri kuliner ini.
Industri Tahu Sumedang turut mendorong sektor pariwisata kuliner, karena banyak wisatawan datang khusus untuk menikmati tahu langsung dari daerah asalnya. Produk ini bahkan menjadi bagian dari ekonomi kreatif Sumedang, yang memperkuat identitas lokal sekaligus meningkatkan daya tarik wisata daerah.
Dari Dapur Sederhana ke Penetrasi Nasional
Lebih dari seabad berlalu sejak tahu pertama kali dibuat di dapur kecil keluarga Ong Bung Keng. Kini, Tahu Sumedang telah menjadi bagian dari kultur kuliner nasional. Rasanya yang sederhana namun khas, ditambah nilai historisnya yang kuat, menjadikan kuliner ini tetap relevan dan terus dicintai lintas generasi. [lampau.id]
